Wednesday, June 16, 2010

Mengingati pemergian Ustaz Hassan Shukri... Tokoh Arkib PAS

Dicatat oleh KEMBARA SUFI

Malaysia amnya dan Gerakan Islam khasnya terkejut dengan pemergian Tokoh Maal Hijrah Selangor, Ustaz Hj Hassan Shukri kerahmatullah beberapa hari yang lepas. Pemergiaan tokoh arkib PAS yang sukar dicari ganti. Kelembutannya, keramahannya, senyuman, kecekalan hati dan pengorbanannya akan sentiasa dirindui oleh setiap pejuang Islam yang mengenali almarhum. Sebagai mengingati pemergian tokoh ini, didedikasikan kisah seorang sahabat , Salamah bin Al-Akwa' yang begitu besar pengorbanan dalam lipatan sejarah para sahabat. Moga menjadi contoh untuk kita semua...

Salamah adalah seorang pemanah dari bangsa Arab yang terkemuka, juga terbilang sebagai tokoh yang berani, dermawan, dan gemar berbuat kebajikan. Ketika dia menyerahkan dirinya untuk menganut Islam, diserahkannya secara benar dan sepenuh hati, Islam membentuknya menjadi manusia yang agung sesuai dengan coraknya yang agung. Salamah bin al-Akwa juga termasuk tokoh Baiatur-Ridwan.

Ketika pada tahun 6 H Rasulullah saw. bersama para sahabat berangkat dari Madinah dengan tujuan hendak berziarah ke Ka'bah, tetapi dihalangi oleh orang-orang Quraisy, maka Rasulullah saw. mengutus Usman bin Affan untuk menyampaikan kepada mereka bahwa tujuan kunjungannya hanyalah untuk berziarah, dan sekali-kali bukan untuk berperang.

Sementara menunggu kembalinya Usman, tersiar berita bahawa dia telah dibunuh oleh orang-orang Quraisy. Rasulullah saw. lalu duduk di bawah naungan sebatang pohon menerima baiah sehidup semati dari sahabatnya, seorang demi seorang.

Salamah bercerita, “Aku mengangkat baiah kepada Rasulullah saw. di bawah pohon, dengan pernyataan menyerahkan jiwa dan ragaku untuk Islam. Lalu, aku mundur dari tempat itu. Tatkala tersisa tidak banyak lagi, Rasulullah saw. bertanya, ‘Hai Salamah, mengapa kamu tidak ikut baiah?’ ‘Aku telah berbaiah, wahai Rasulullah saw.,’ ujarku. ‘Ulangi kembali,’ sabda Nabi. Maka, aku ucapkan kembali baiah itu’.”

Dan, Salamah telah memenuhi isi baiah itu sebaik-baiknya. Bahkan, sebelum diikrarkannya, iaitu semenjak dia mengucapkan syahadah, maksud baiah itu telah dilaksanakan.

Salamah berkata, “Aku berperang bersama Rasulullah saw. sebanyak tujuh kali, dan bersama Zaid bin Harithah sebanyak sembilan kali.”

Salamah dikenal sebagai tokoh paling mahir dalam peperangan jalan kaki, dan dalam memanah serta melemparkan tombak dan lembing. Tipu daya perang yang dijalankannya serupa perang gerila, yang kita jumpai sekarang ini. Jika musuh datang menyerang, dia menarik pasukannya undur ke belakang. Tetapi, bila mereka kembali atau berhenti untuk berehat, maka diserangnya mereka dengan bersungguh-sungguh.

Dengan tipu helah seperti ini, dia yang berseorangan diri mampu menghalau tentera yang menyerang luar kota Madinah di bawah pimpinan Uyainah bin Hishan al-Firari dalam peperangan yang disebut perang Dzi Qarad. Da pergi menegekori mereka seorang diri, lalu memerangi dan menghalau mereka dari Madinah, hingga akhirnya datanglah Nabi saw. membawa bala bantuan yang terdiri dari para sahabat.

Pada hari itulah, Rasulullah saw. menyatakan kepada para sahabat, “Tokoh jalan kaki kita yang terbaik adalah Salamah bin Al-Akwa.”

Salamah tidak pernah berkecil hati atau berasa kecewa, kecuali ketika saudaranya yang bernama Amir bin Al-Akwa tewas di perang khaibar.

Kedermawanan Salamah telah cukup terkenal, tetapi ada hal yang luar biasa. Hingga dia akan menunaikan permintaan orang, termasuk jiwanya apabila permintaan itu atas nama Allah.

Rahsia ini rupanya diketahui oleh ramai orang. Maka, jika seseorang ingin tuntutannya berhasil, dia akan mengatakan kepada Salamah, “Kuminta anda atas nama Allah.” Dan mengenai hal ini, Salamah pernah berkata, “Jika bukan atas nama Allah, atas nama siapa lagi kita akan memberi.”

Sewaktu Usman r.a. dibunuh, pejuang yang perkasa ini merasa bahawa api fitnah telah membakar kaum muslimin. Dia adalah orang yang sudah menghabiskan usianya selama ini berjuang bantu membantu dengan saudaranya seagama untuk mempertahankan agama Allah, maka dia tidak mahu berperang melawan saudara seagamanya.

Benar, seorang tokoh yang telah mendapat pujian dari Rasulullah saw. tentang kepakarannya dalam memerangi orang-orang musyrik, tidaklah pada tempatnya jika ia menggunakan kepakarannya itu untuk memerangi atau membunuh orang-orang mukmin. Itulah sebabnya, dia mengemas barang-barangnya lalu meninggalkan Madinah dan berangkat menuju Rabdzah, iaitu kampung yang dipilih oleh Abu Dzar sebagai tempat hijrah dan pemukiman barunya.

Maka di Rabdzah inilah Salamah menghabiskan sisa hidupnya, pada suatu hari di tahun 74 H., hatinya merasa rindu berkunjung ke Madinah. Maka, berangkatlah dia untuk memenuhi kerinduannya itu. Tetapi pada hari ketiga dia tinggal di Madinah. Dia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir di dunia ini di kota itu.

Demikianlah, rupanya dia harus kembali di tanahnya yang tercinta, di lingkungan sahabat-sahabatnya dan memperoleh berkatan bersama para syuhada yang soleh.


Sumber: Karakteristik Perihidup Enam Puluh Sahabat Rasulullah, Khalid Muh. Khalid

No comments:

Post a Comment